Wednesday, 29 February 2012

Kisah Putri Duyung


Tersebutlah seorang raja laut yang ditinggalkan oleh permaisurinya. Maka hidupnya hanya ditemani oleh enam orang putrinya dengan diasuh oleh seorang neneknya.

Neneknya membuat peraturan, bahwa hanya jika sudah berusia lima belas tahun cucunya boleh muncul ke permukaan laut melihat dunia manusia.

Kenapa harus begitu, Nek?” tanya seorang cucunya.
Begitulah, agar kalian nampak cantik dilihat oleh manusia di daratan,” jawab neneknya.

Waktu pun berlalu. Satu persatu putri-putri itu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Namun diantara putri-putri cantik itu yang paling cantik adalah Puteri Duyung bungsu.

Ombak akan tenang bilamana Puteri Duyung muncul ke permukaan laut.

Pada suatu hari Putri Duyung bungsu muncul di permukaan laut. Dilihatnya sebuah perahu semakin mendekatinya. “Alangkah tampannya penumpang perahu itu. O, yang itu lebih tampan lagi,” katanya kepada dirinya sendiri setelah dekat dengan perahu. Dia memang heran, karena penumpang yang dianggapnya paling tampan adalah Putra seorang raja.

Tiba-tiba cuaca berubah menjadi buruk. Angin taufan menyambar-nyambar perahu. Perahu jadi oleng. Dan akhirnya perahu itu tenggelam. Melihat kecelakaan tersebut Putri Duyung sangat kasihan kepada Putra Raja. Ditolongnya pemuda itu. Dalam keadaan pingsan Putra Raja diletakkan di tepi pantai, sedang dia sendiri kembali pulang kedasar laut.

Tapi sulit bagi Putri Duyung untuk melupakan wajah yang tampan itu. Maka dia menceritakannya kepada kakak-kakaknya apa yang telah dialaminya. Kakak-kakaknya tertawa memperolok.

Pantas saja kau jadi pemurung kini,” kata salah seorang kakaknya.

Karena amat rindu kepada Putra Raja, Putri Duyung ingin pergi ke permukaan laut. Ingin menjumpai Putra Raja. Sebenarnya neneknya melarang agar jangan sekali-kali menjumpai Putra Raja, karena ekor Putri Duyung sangat buruk dan tak disukai oleh manusia. Namun Putri Duyung tetap berkemauan keras. Dia pergi kepada Penyihir.

Aku bisa menolongmu, agar kau berkaki cantik asal suaramu boleh kuminta,” kata Penyihir.
Baiklah,” jawab Putri Duyung.
Minumlah obat ini jika kau sudah sampai di permukaan laut,”Putri Duyung mengangguk.

Sesampainya di permukaan laut, obat dari Penyihir itu diminumnya. Seketika itu juga dia pingsan. Tapi setelah siuman Putri Duyung melihat disampingnya telah duduk Putra Raja dengan tersenyum. Alangkah bahagia hati Putri Duyung. Tapi sayang ketika Putra Raja yang tampan menanyakannya, Putri Duyung tak bisa bersuara. Dia ingat bahwa suaranya telah diberikan kepada Penyihir. Dengan begitu Putra Raja seolah hanya berhadapan dengan seorang gadis cantik tetapi bisu. Kecewalah hati Putra Raja. Menangislah Putri Duyung ketika Putra Raja meninggalkannya. Dia pun jadi putus asa. Kemudian dia mencebur ke laut pulang ke istana ayahnya. Dia sangat malu kepada manusia. Itulah maka Putri Duyung selalu mengelak dari pandangan manusia.

Read More - Kisah Putri Duyung

Monday, 18 July 2011

Asal Mula Terjadinya Danau Toba


Pada zaman dahulu ada seorang petani bernama Toba yang menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Petani itu mengerjakan sawah dan ladang utnuk keperluan hidupnya.

Selain mengerjakan ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ikan ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya. Setiap kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya karena di sungai yang jernih itu memang banyak sekali ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.

Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang lelaki itu langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tetapi sudah cukup lama dia memancing, tak seekor ikan pun didapatnya. Kejadian yang begitu belum pernah dia alami. Sebab biasanya ikan di sungai itu mudah saja dia pancing. Karena sudah terlalu lama tak ada juga kan yang memakan umpan pancingnya, dia jadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing. Tetapi ketika dia hendak menarik pancingnya, tiba-tiba pancing itu disambar ikan yang langsung menarik pancing itu jauh ke tengah sungai. Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, karena dia tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya itu adalah ikan yang besar. Setelah beberapa lama ia biarkan pancingnya ditarik ikan itu kesana kemari, barulah pancing itu ditariknya perlahan-lahan. Ketika pancing itu disentakkannya tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya. Dengan cepat ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Pada saat dia sedang melepaskan mat apancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan penuh arti. Kemudian, setelah ikan itu diletakkannya ke satu tempat dia pun masuk ke dalam sungai untuk mandi. Perasaannya gembira sekali karena belum pernah dia mendapat ikan sebesar itu. Dia tersenyum sambil membayangkan betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau sudah dipanggang. Ketikan dia meninggalkan sungai utnuk pulang ke rumahnya hari sudah mulai senja. Setibanya di rumah, lelaki itu langsung membawa ikan besar hasil pancingannya itu ke dapur. Ketika dia hendak menyalakan api untuk memanggang ika itu, ternyata kayu bakar di dapurnya sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian, sambil membawa bbeapa potong kayu bakar dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.

Pada saat lelaki itu tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan itu tadi diletakkan tempat erhampar bebeapa keping uang emas. Karena terkejut dan heran mengalami keadaan yang aneh itu, dia meninggalkan dapur dan masuk ke kamar.

Ketika lelaki itu membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena di dalam kamar itu berdiri seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar. Sesaat kemudian, perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu yang tegak kebingungan di mulut pintu kamar. Lelaki itu menjadi sangat terpesona karena wajah perempuan yang berdiri di hadapannya luar biasa cantiknya. Dia belum pernah melihat perempuan secantik itu meskipun dahulu dia sudah jaun mengembara ke berbagai negeri.

Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah lelaki itu menyalakan lampu, dia diajak perempuan itu mengawaninya ke dapur karena dia hendak memasak nasi untuk mereka. Sambil menunggu nasi masak, diceritakan oleh perempuan itu bahwa dia adalah penjelmaan dari iakn besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di sungai. Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan sisiknya. Setelah beberapa minggu perempuan cantik itu tinggal serumah bersamanya, pada suatu hari lelaki itu melamar perempuan tersebut untuk jadi istrinya. Perempuan tersebut menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu harus bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal usul istrinya yang menjelma jadi ikan. Setelah lelaki itu bersumpah demikian, kawinlah mereka.

Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama samosir. Anak itu sangat dimanjakan ibunya yang mengakibatkan anak itu berabiat kurang baik dan pemalas.

Seelah cukup besar, anak itu disuruh ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksalah ibunya yang mengantarkan nasi ke ladang.

Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang utnuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa ibunya, dengan kesal pergilah dia mengantarkan nsi itu. Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauknya dia makan. Setibanya di laang, sisa nasi yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya. Saat menerimanya, si ayah sudah sangat lapar karena nasinya sudah sangat erlambat sekali diantarkan. Oelh karena itu, maka si ayah jadi sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah sisa-sisa. Amarahnyamakin bertambah ketika anak nya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar dari nasi itu. Kesabaran si ayah menjadi hilang dan dia pukuli anaknya sambil mengatakan “Anak yang tak bisa diajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”

Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia adukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya diceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu. Si ibu menyuruh anaknya agar segra pergi mendaki bukit yang terletak tak begitu jauh dari rumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi yang erdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan prinah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.

Ketika tampak oleh si ibu anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yan dipanjatnya di atas bukit, dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dirumah mereka itu. Ketika di tiba ditepi sungai itu kilat menyamar disertai bunyi guruh yang menggelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itupun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Bebrapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap ke mana-mana dan tenggelamlah lembah tempat sungai itu mengalir. Pak Toba tidak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelaman, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang kemudian hari dinakaan orang danau toba. Sedang pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.

Read More - Asal Mula Terjadinya Danau Toba

Hikayat Malin Kundang


Dahulu kala di Padang Sumatera Barat tepatnya di Perkampungan Pantai Air Manis ada seorang janda bernama Mande Rubayah. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Malin Kundang. Malin sangat disayang oleh ibunya, karena sejak kecil Malin Kundang sudah ditinggal mati oleh ayahnya.

Malin dan ibunya tinggal di perkampungan nalayan. Ibunya suah tua ia hanya bekerja sebagai penjual kue. Pada suatu hari Malin jatuh sakit. Tubuhnya mendadak panas sekali. Mande Rubayah tentu saja sangat bingung. Tidak pernah Malin jatuh sakit seperti ini. Mande Rubayah berusaha sekuatnya unuk mengabobati Malin dengan mendatangkan tabib.

Nyawa Malin yang hampir melayang itu akhirnya dapat diselamatkan berkat usaha keras ibunya. Setelah sembuh dari sakitnya ia makin disayang. Demikianlah Mande Rubayah sangat menyayangi anaknya. Sebaliknya Malin juga amat sayang kepada ibunya.

Ketika sudah dewasa, Malin berpamitan kepada ibunya untuk pergi merantau. Pada saat itu memang ada kapal besar yang merapat di Pantai Air Manis.

“Bu, ini kesempatan yang baik bagi saya,” kata Malin. “Belum tentu setahun sekali ada kapal besar merapat di pantai ini. Saya berjanji akan merubah nasib kita sehingga kita akan menjadi kaya raya.”

Meski dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah mengijinkan anaknya pergi. Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus.

Hari-hari berlalu terasa lambat bagi Mande Rubayah. Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut. Ia bertanya-tanya dalam hati, sampai di manakah anaknya kini? Jika ada ombak dan badai besar menghempas ke pantai, dadanya berdebar-debar. Ia mengadahkan kedua tangannya ke aas sembari berdo’a agar anaknya selamat dalam pelayaran. Jika ada kapal yang datang merapat ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya. Tetapi semua awak kapal atau nahkoda tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Malin tidak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya.

Itulah yang dilakukan Mande Rubayah setiap hari selama bertahun-tahun. Tubuhnya semakin tua dimakan usia. Jika berjalan ia mulai terbungkuk-bungkuk.

Pada suatu hari Mande Rubayah mendapat kabar dari nakhoda yang dulu membawa Malin bahwa sekarang malin telah menikah dengan seorang gadis cantik putri seorang bangsawan kaya raya. Ia turut gembira mendengar kabar itu. Ia selalu berdo’a agar anaknya selamat dan segera kembali menjenguknya.

“Ibu sudah tua Malin, kapan kau pulang...” rintih MANDE RUBAYAH tiap malam.

Namun hingga berbulan – bulan semenjak ia menerima kabar malin belum juga datang menengoknya. Namun ia yakin bahwa pada suatu saat Malin pasti akan kembali.

Harapannya terkabul. Pada suatu hari yang cerah dari kejauhan tampak sebuah kapal yang indah berlayar menuju pantai. Kapal itu megah dan bertingkat – tingkat. Orang kampung mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira.

Ketika kapal itu mulai merapat, tampak sepasang muda mudi berdiri di anjungan. Pakaian mereka berkilauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum. Mereka nampak bahagia karena disambut dengan meriah.

Mande Rubayah ikut berdesakan melihat dan mendekati kapal. Jantungnya berdebar keras. Dia sangat yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anak kesayangannya si Malin Kundang.

Belum lagi tetua desa sempat menyambut, Ibu Malin terlebih dahulu menghampiri Malin. Ia langsung memeluk malin erat – erat. Seolah takut kehilangan anaknya lagi.

“Malin, anakku,” katanya menahan isak tangis karena gembira.

“Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar?”

Malin terpana karena dipeluk wanita tua renta yang berpakaian compang – camping itu. Ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya. Seingat Malin, ibunya adalah seorang wanita berbadan tegar yang kuat menggendongnya kemana saja. Sebelum dia sempat berpikir dengan tenang, istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata, “Cuih! Wanita buruk inikah ibumu? Mengapa kau membohongi aku?”

lalu dia meludah lagi. “Bukankah dulu kau katakan ibumu adalah seorang bangsawan sederajad dengan kami?”

Mendengar kata – kata istrinya, Malin Kundang mendorong wanita itu hingga terguling ke pasir. Mande Rubayah hampir tidak percaya pada perikau anaknya, ia jatuh terduduk sambil berkata, “Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, nak!”

Malin Kundang tidak menghiraukan perkataan ibunya. Pikirannya kacau karena ucapan istrinya. Seandainya wanita itu benar ibunya, dia tidak akan mengakuinya. Ia malu kepada istrinya. Melihat wanita itu beringsut hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata, “Hai, perempuan tua! Ibuku tidak seperti engkau! Melarat dan dekil!”


Wanita tua itu terkapar di pasir. Orang banyak terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Tak disangka Malin yang dulu disayangi tega berbuat demikian. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, Pantai Air Manis sudah sepi. Dilaut dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Hatinya perih seperti ditusuk-tusuk. Tangannya ditadahkannya ke langit. Ia kemudian berseru dengan hatinya yang pilu, “Ya, Allah Yang Maha Kuasa, kalau dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang dia benar anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu, Ya Tuhan ...!”

Tidak lama kemudian cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya. Entah bagaimana awalnya tiba-tiba datanglah badai besar. Menghantam kapal malin kundang. Disusul sambaran petir yang menggelegar. Seketika kapal itu hancur berkeping-keping. Kemudian terhempas ombak hingga ke pantai.

Ketika mathari pagi memancarkan sinarnya, badai telah reda. Di kaki bukit terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu. Itulah kapal Malin Kundang. Tak jauh dari tempat itu nampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Konon itulah tubuh Malin Kundang anak durhaka yang kena kutuk ibunya menjadi batu. Disela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan belanak dan ikan tengiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.

Demikianlah sampai sekarang jika ada ombak besar menghantam batu-batu yang mirip kapal dan manusia itu, terdengar bunyi seperti lolongan jeritan manusia. Sungguh memilukan kedengarannya. Kadang-kadang bunyinya seperti orang meratap menyesali diri. “Ampuuuun, Bu ... ! Ampuuuun... Buuuuu ... !” konon itulah suara si Malin Kundang.

Orang yang durhaka kepada orang tuanya terutama kepada ibunya, orang tersebut tidak akan bisa masuk surga kecuali setelah mendapat pengampunan dari ibunya.

Read More - Hikayat Malin Kundang

Kisah Asal Mula Salju


Putri salju adalah seorang putri yang sangat cantik jelita. Begitu cantiknya sehingga ia menjadi kebanggaan rakyat negeri awan putih. Baginda raja dan ratu sangat berharap, kelak sang putri akan mendapatkan pangeran yang tampan dan sepadan dengan putri.

Putri salju sendiri tidak pernah memikirkan untuk menikah. Ia sangat senang hidup di negerinya bersama orang tua dan rakyat yang menyayanginya.

Suatu hari, ada seorang pangeran calon raja dari negeri angin. Pangeran itu sangat gagah dan cerdas, setelah melihat putri salju, ia berniat untuk mempersunting putri salju. Raja dan ratu langsung menyetujuinya. Putri salju dengan sedih menerima karena ia tidak ingin melawan orang tuanya.

"Baiklah, kalau putri bersedia. Bulan ini kita segera menikah." Kata pangeran dengan hati gembira. Putri salju sangat terkejut mendengar rencana pernikahan yang begitu cepat.
"Aku tidak mau menikah pada bulan ini," kata putri salju."
"Mengapa? lebih cepat lebih baik. aku masih harus mengerjakan banyak hal untuk negeri dan rakyatku" pangeran berkata dengan gusar.
"Sekarang masih musim dingin, banyak pepohonan beku, bunga belum bermekaran, tunggu bulan depan saja, bunga sudah mulai kuncup dan bermekaran. Aku ingin pada bulan pernikahanku dihiasi dengan harum bunga, kicau burung, semua menjadi lebih indah." jelas putri salju,
"Tidak bisa!! tugasku menumpuk. pokoknya harus bulan ini." kata pangeran tegas.

Pangeran segera pulang ke negeri angin, puteri salju sangat sedih dan menangis tersedu - sedu. ayah puteri salju menghibur puteri salju, ia berjanji akan memetik bunga - bunga di taman kaca istana dan akan membawa seluruh koleksi burung di istana.

Seminggu kemudian hari pernikahan tiba. pangeran telah siap dengan pakaian kebesaran. dengan diiringi pengawal dan pembesar istana yang angkuh. Mereka membawa banyak hadiah untuk calon mempelai perempuan. perhiasan, pakaian, sutra, sepatu. semua sangat indah dan mahal.

Namun bagi putri salju, saat itu adalah saat paling kelabu bagi puteri salju. Tidak ada harum bunga, kicau burung, dan rimbunnya daun. Udara begitu dingin menusuk tubuh.

Dalam hati putri salju berharap agar mau mengucapkan kata - kata yang lembut dan manis, sebagai ungkapan cintanya pada putri salju.

"Apakah kau benar - benar mencintaiku?" bisik putri salju di tengah keramaian pesta.
"Tentu, tapi jangan harap kau bermanja - manja, bila nanti tiba di istanaku, rakyat menginginkan seorang permaisuri yang bijaksana. Tidak manja dan cengeng." Jawab pangeran.

Putri salju terkejut mendengar jawaban pangeran. Pangeran ternyata begitu dingin, putri salju sangat sedih. Selama upacara pernikahan putri salju menahan kekecewaannya.


"sekarang kita sudah menikah, segeralah berkemas. kita harus segera ke negeri angin, banyak tugas yang harus ku selesaikan." kata pangeran,
Putri salju memandang suaminya, dia berharap pangeran dapat memahami hatinya. Namun harapannya sia - sia.
"Bunga - bunga ini sangat indah, bolehkah kubawa atau kupasang di kereta kuda kita?" pinta putri salju.
"Bunga - bunga itu hanya akan mengotori kereta. Kita berangkat sekarang juga." jawab pangeran.

Putri salju kecewa dan merasa kesal. Sebelum pergi meninggalkan orangtua dan istananya, ia berjalan ke ruang - ruang istana yang sebentar lagi akan ditinggalkannya. Banyak kenangan masa kecil yang melintas di matanya. air matanya menitik sedih.

Ketika ia menaiki kereta kuda pangeran terhadilah peristiwa yang mengagumkan. Para dayang berlarian keluar istana dan menghampiri putri salju.
"Putri jangan pergi dulu," kata seorang dayang. "Lihat banyak gumpalan putih dan lembut jatuh dari langit seperti kupu - kupu."

Semua tampak indah dan mengagumkan. pangeran dan pengawalnya pun tertegun kagum melihat kejadian itu.

tidak tahu pasti apa yang menyebabkan terjadinya gumpalan putih tersebut. Namun banyak yang menduga, gumpalan itu adalah lambang dari kesedihan putri salju. mulai hari itu seluruh orang menyebut gumpalan putih dari langit itu dengan nama salju.

#Di sadur dari majalah INO edisi II tahun 2002#

Read More - Kisah Asal Mula Salju

Kisah Gagak Putih


Cerita Rakyat Myanmar

Dulu, di Myanmar burung merak dan burung gagak berwarna putih bersih. Penampilan mereka jaman dulu berbeda dengan penampilan mereka sekarang, namun sifat mereka tidak berubah. Burung gagak adalah pengurus rumah tangga yang buruk, sarangnya selalu kotor dan tidak teratur, ditambah lagi dia jarang mandi, maka dari itu bulunya selalu kotor. Merak memiliki sifat yang bertolak belakang, dia rapi dan bersih, sarangnya selalu rapi, dan merak selalu mandi beberapa kali sehari, maka dari itu bulunya berwarna putih bersih.

Merak sangat kawatir dengan sifat gagak. suatu hari ia melihat gagak makan sembarangan. "Jangan makan makanan busuk, biji dan buah segar jauh lebih baik bagimu", ujar merak kepada gagak, Tapi dasar malas, si gagak tetap saja memakan makanan yang diperolehnya tanpa harus bekerja.

Suatu hari gagak datang dengan tubuh penuh dengan lumpur, ia melihat tubuh merak yang putih bersih dan mengkilat. "Apakah hari ini kau habiskan untuk mencuci bulumu?" tanya gagak kepada merak. "Ya benar, tampaknya bulumu juga perlu di cuci, gagak" Sahut merak. dengan malas gagak menyetujui tawaran itu.


Ketika merak memandikan gagak, ia berkata "Seandainya kita berdua memiliki berwarna - warni, orang pasti tertarik kepada kita." "ah apa bedanya?" sahut gagak. "Gagak, kita akan menjadi burung paling indah di dunia. Bagaimana kalau kau mengecat bulumu, dan nanti ganti kau yang mengecat bulukku?"kata merak. Gagak menyetujui usul sahabatnya itu dan ia mau mengecat bulu merak terlebih dahulu. Dengan senang hati merak membimbing gagak untuk mengecat bulunya. Merak sangat gembira melihat hasilnya yang indah dan menawan. "Betapa indahnya, sekarang giliranku untuk mengecat bulumu, gagak." kata merak dengan riang.

Pada saat merak akan melukis bulu sahabatnya itu gagak melihat bangkai tupai terapung di sungai. dengan tak sabar gagak ingin menyantap bangkai itu. "Merak cepatlah. lukis buluku dengan satu warna saja supaya cepat selesai." "sabar gagak, aku akan melukis bulumu seindah buluku." kata merak.

"Tidak usah, cat aku dengan satu warna saja. Hitam. aku lapar, tidak tahan lagi niiih" jawab gagak.Merak menuruti perintah gagak, ia menuang cat hitam ke tubuh gagak, dan seketika gagak berubah menjadi hitam. Setelah selesai si gagak langsung menyerbu bangkai tupai yang terapung di sungai itu.

Sejak kejadian itu, burung merak memiliki bulu yang indah sedangkan bulu gagak berwarna hitam.

Akibat tidak bisa menahan nafsu makan dan kurang sabar gagak tidak memiliki bulu indah yang berwarna - warni.

#ditulis ulang dari majalah INA edisi 19 tahun 1999#

Read More - Kisah Gagak Putih