Showing posts with label Kisah Negeri 1001 Malam. Show all posts
Showing posts with label Kisah Negeri 1001 Malam. Show all posts

Saturday, 24 March 2012

Kisah Putri dalam Pakaian Kulit


Tidak di sini, tidak pula di sana, hiduplah seorang raja yang mempunyai istri yang dicintainya dengan segenap hatinya dan seorang putri yang menjadi cahaya bagi matanya. Sang putri belum lagi menginjak dewasa ketika ratu jatuh sakit dan meninggal. Selama setahun penuh raja tak pernah memicingkan mata, duduk dengan kepala tertunduk di samping pusara istrinya. Lalu dia memanggil para comblang, yaitu perempuan-perempuan tua yang telah makan asam-garam kehidupan, dan berkata, “Aku ingin menikah lagi. Inilah gelang kaki ratu yang malang. Carikan untukku gadis, kaya atau miskin, dari kalangan rakyat jelata atau bangsawan, yang kakinya cocok dengan gelang kaki ini. Sebab aku berjanji kepada ratu saat dia menjelang ajal bahwa aku akan menikah dengan gadis itu dan bukan yang lain.”

Para comblang itu bepergian ke seluruh wilayah kerajaan untuk mencari istri baru bagi raja. Tapi meskipun mereka telah mencari kemana-mana, mereka tidak dapat menemukan seorang gadis pun yang kakinya cocok dengan gelang kaki itu. Penampilan ratu memang sedemikian rupa sehingga tidak ada yang menyamainya. Lalu salah seorang perempuan tua itu berkata, “Kita telah memasuki rumah setiap gadis di negeri ini kecuali rumah putri raja sendiri. Mari kita pergi ke istana.”

Ketika mereka memasukkan gelang kaki itu ke kaki putri, ukurannya benar-benar pas, seakan-akan gelang tersebut memang dibuat untuknya. Dari tempat itu larilah para perempuan tua itu langsung menghadap raja, dan berkata, “Kami telah mengunjungi setiap gadis di negeri paduka, namun tak seorang pun yang dapat mengecilkan kakinya agar bisa dimasuki gelang kaki almarhumah ratu. Tak seorang pun, kecuali putri paduka sendiri. Dia memakainya dengan mudah seakan-akan gelang kaki itu memang miliknya.” Seorang perempuan yang telah berkerut-kerut kulitnya berkata, “Mengapa tidak mengawini putri saja? Mengapa harus menyerahkan dia kepada orang asing dan meniadakan kesempatan paduka sendiri?” Kata-kata itu belum lagi selesai diucapkan ketika raja memanggil qadi untuk menyiapkan ijab-qabul. Kepada sang putri dia tidak menyebut-nyebut tentang rencananya.

Berlangsunglah kesibukan di istana ketika para jauhari, perancang pakaian, dan juru rias datang untuk mendandani putri. Putri merasa senang ketika mengetahui dia akan dinikahkan. Tapi siapa yang akan menjadi suaminya dia tidak punya firasat sama sekali. Hingga larut pada “malam pengantin,” ketika mempelai pria pertama kali melihat istrinya, dia tetap tidak tahu meskipun para pelayan dengan bisik-bisik mereka sibuk di sekelilingnnya, menyisir rambut, menyematkan hiasan, dan menjadikan dirinya tampak cantik. Akhirnya putri menteri, yang datang untuk mengaguminya dalam pakaiannya yang indah, berkata, “Mengapa kamu memberengut saja? Bukankah perempuan itu diciptakan untuk menjadi istri pria? Dan adakah pria yang punya kedudukan lebih tinggi daripada raja sendiri?”

“Apa arti pembicaraan itu?” teriak putri. “Aku tidak akan mengatakannya padamu,” kata gadis itu, “kecuali jika kamu berikan padaku gelang emas di lenganmu itu untuk kusimpan.” Putri melepaskan gelangnya, dan kawannya menjelaskan bahwa segalanya telah direncanakan sedemikian rupa sehingga mempelai pria tidak lain dari ayah putri sendiri.

Wajah putri berubah menjadi lebih putih dibanding kain yang membungkus kepalanya dan dia gemetar layaknya orang yang sedang menderita sakit demam empat puluh hari. Dia bangkit berdiri dan menyuruh pergi semua orang yang ada di dekatnya. Lalu, setelah menyadari bahwa dia harus melarikan diri, dia bergegas menuju teras dan melompati tembok istana, mendarat di halaman rumah tukang samak kulit yang ada di bawah. Dia menyerahkan segenggam emas kepada tukang samak itu dan berkata, “Dapatkah kamu buatkan aku sebuah pakaian dari kulit yang dapat menyembunyikan diriku dari ujung kepala hingga ujung kaki, yang tidak dapat menunjukkan apa pun kecuali mataku? Aku ingin pakaian itu selesai saat fajar menyingsing besok pagi.”

Pria miskin itu merasa senang sekali menerima uang tersebut. Dia mulai bekerja bersama istri dan anak-anaknya. Dengan memotong dan menjahit sepanjang malam, pakaian itu siap sebelum hari cukup terang untuk membedakan benang putih dari benang hitam. Tunggu sebentar! Dan datanglah sang putri. Dia mengenakan pakaian itu—pemandangan yang begitu aneh sehingga setiap orang yang memandangnya akan mengira bahwa yang dilihatnya tidak lain dari setumpuk kulit. Dengan samaran inilah dia meninggalkan tukang samak kulit itu dan berbaring di samping gerbang kota, menanti siang hari.

Kini, kembali pada tuanku sang raja. Ketika dia memasuki kamar pengantin dan mendapati bahwa putri telah pergi, dia memerintahkan pasukannya ke seluruh kota untuk mencarinya. Berkali-kali seorang serdadu menemukan tubuh putri yang berbaring di gerbang dan bertanya, “Pernahkah kamu melihat putri raja?”
Gadis itu menjawab,
“Namaku Juleidah karena pakaian kulitku yang melekat,
Mataku lemah, pandanganku sama-samar,
Telingaku tuli, aku tak dapat mendengar,
Aku tidak memedulikan siapa pun, jauh maupun dekat.”
Ketika siang tiba dan gerbang kota dibuka, dia menyeret tubuhnya keluar tembok. Lalu dia memalingkan wajahnya dari kota ayahnya, dan lari.

Terus berjalan dan berlari, tibalah hari ketika—bersama terbenamnya matahari—putri sampai di kota lain. Karena terlalu lelah untuk bepergian lebih jauh, dia jatuh ke atas tanah. Kini, tempatnya tidur, ada di bawah bayang-bayang tembok keputren, yaitu harem dari istana sultan. Seorang gadis budak, yang melongok dari jendela untuk membuang remah-remah dari meja makan istana, melihat tumpukkan kulit di atas tanah dan tidak memedulikannya. Ketika melihat sepasang mata cemerlang yang menatapnya dari balik kulit itu, dia melompat takut ke belakang, dan berkata kepada ratu, “Tuan putri, ada sesuatu yang mengerikan meringkuk di bawah jendela kita. Hamba telah melihatnya, dan tampaknya dia tidak lain dari sesosok Ifrit!”
“Bawalah ia ke sini agar aku bisa melihat dan menilainya,” kata ratu.

Gadis budak itu turun sambil gemetar ketakutan, tanpa mengetahui mana yang lebih mudah dihadapi, monster di luar itu atau kemarahan majikannya jika dia tidak melaksanakan perintahnya. Tapi putri di dalam pakaian kulit itu tidak bersuara sama sekali ketika si gadis budak menarik sudut pakaian kulitnya. Dia memberanikan dirinya dan menyeret sang putri sepanjang jalan untuk menghadap istri sultan.

Belum pernah sesosok makhluk yang begitu aneh terlihat di negeri itu. Dengan mengangkat kedua tangannya karena keheranan, ratu bertanya pada pelayannya, “Apakah ini?” Mereka berpaling dari monster itu, dan bertanya, “Siapakah kamu?” Tumpukan kulit itu menjawab,
“Namaku Juleidah karena pakaian kulitku yang melekat,
Mataku lemah, pandanganku sama-samar,
Telingaku tuli, aku tak dapat mendengar,
Aku tidak memedulikan siapa pun, jauh maupun dekat.”

Betapa terpingkal-pingkalnya ratu tertawa! “Bawakan makanan dan minuman untuk tamu kita,” katanya, sambil memegangi pinggangnya. “Kita akan menahannya di sini untuk menghibur hati kita.” Setelah Juleidah makan, ratu berkata,
“Katakan pada kami apa yang dapat kamu lakukan, sehingga kami dapat mempekerjakanmu di sekitar istana ini.”
“Apa pun yang engkau minta untuk kulakukan, aku siap untuk mencoba,” kata Juleidah.

Lalu ratu berseru, “Juru masak! Bawalah makhluk yang patah sayapnya ini ke dapurmu. Semoga karena dirinya Allah akan memberikan rahmat-Nya pada kita.”

Maka kini putri kita yang cantik menjadi pembantu di dapur, menjaga nyala api dan mengumpulkan abu. Dan setiap kali ratu tidak punya teman dan merasa bosan, dia memanggil Juleidah dan tertawa mendengar ocehannya.

Suatu hari wazir mengumumkan bahwa seluruh harem sultan diundang ke malam hiburan yang diselenggarakan di rumahnya. Sepanjang hari berlangsung kegembiraan di keputren. Ketika ratu bersiap-siap untuk pergi pada malam harinya, dia berhenti di dekat Juleidah dan berkata, “Maukah kamu pergi bersama kami malam ini? Semua pelayan dan budak diundang. Tidakkah kamu takut untuk tinggal sendirian?” Tapi Juleidah hanya mengulang kata-kata yang pernah diucapkannya sebelumnya,

Telingaku tuli, aku tak dapat mendengar,
Aku tidak memedulikan siapa pun, jauh maupun dekat.

Salah seorang gadis pelayang mendengus dan berkata, “Apa yang akan membuatnya takut? Dia buta dan tuli dan tidak akan menyadari kedatangan Ifrit bahkan jika makhluk itu melompat di atas tubuhnya di tengah kegelapan!” Maka mereka berangkat.

Di bangsal tamu perempuan, di rumah wazir, terhidang jamuan makan dan kemeriahan dan musik serta aneka hiburan. Tiba-tiba di puncak keasyikan mereka berbicara dan bersenang-senang, seseorang yang begitu menarik masuk dan membuat mereka berhenti di tengah pembicaraan yang tengah mereka lakukan. Tinggi bagaikan pohon cemara, dengan wajah secantik bunga mawar dan pakaian dari sutra serta dengan permata yang hanya pantas dikenakan oleh istri seorang raja, gadis itu seakan-akan memenuhi ruangan itu dengan cahaya. Siapakah dia? Juleidah, yang telah melepaskan pakaian kulitnya begitu seluruh penghuni harem sultan pergi. Dia mengikuti mereka ke rumah wazir, dan kini para perempuan yang sebelumnya begitu gembira mulai bertengkar, karena masing-masing ingin duduk di samping pendatang baru itu.

Ketika fajar menjelang, Juleidah mengambil segenggam perhiasan emas dari lipatan pita di pinggangnya dan menebarkannya ke lantai. Perempuan-perempuan itu berebut untuk memungut harta-benda yang gemerlapan itu. Dan sementara mereka sibuk, Juleidah meninggalkan bangsal. Cepat-cepat dia berlari kembali ke dapur istana dan mengenakan pakaian kulitnya. Tak lama kemudian yang lain-lain pun datang. Melihat tumpukan kulit di lantai dapur, ratu menyodoknya dengan ujung selop merahnya dan berkata, “Sungguh, aku berharap kau pergi bersama kami untuk mengagumi gadis yang datang di pesta tadi.”

Juleidah hanya bergumam, “Mataku lemah, pandanganku samar-samar ...” dan mereka semua pergi ke tempat tidur masing-masing untuk tidur.

Ketika ratu bangun keesokan harinya, matahari telah tinggi di langit. Sebagaimana kebiasaannya, putra sultan datang untuk mencium tangan ibunya dan mengucapkan selamat pagi. Tapi perempuan itu hanya membicarakan tamu di pesta wazir. “Ya putraku,” desahnya, “dia adalah seorang perempuan dengan wajah dan leher serta bentuk tubuh sedemikian rupa sehingga semua orang yang melihatnya akan berkata, ‘Dia pasti bukan hanya putri seorang raja atau sultan, melainkan orang yang lebih hebat lagi!’” Berkali-kali ratu melontarkan puji-pujian pada perempuan itu, hingga hati pangeran terbakar.

Ibunya berkata, “Mestinya aku telah menanyakan nama ayahnya sehingga aku dapat meminangnya untuk menjadi istrimu.” “Jika engkau kembali ke sana malam ini untuk melanjutkan pesta, aku akan berdiri di luar pintu rumah wazir dan menunggu sampai gadis itu pergi. Maka aku akan bertanya tentang ayahnya dan kedudukannya,” jawab putra sultan. Ketika matahari tenggelam, para perempuan mendandani di ri mereka sekali lagi. dengan lipatan pakaian mereka yang berbau harum bunga jeruk dan kemenyan serta gelang-gelang bergemerincing di tangan, mereka melewati Juleidah yang berbaring di dapur istana dan berkata, “Maukah kamu pergi bersama kami malam ini?” Tapi Juleidah membalikkan punggungnya. Lalu begitu mereka semua teah pergi, dia melepaskan seluruh pakaian kulitnya dan bergegas mengejar mereka.

Di bangsal rumah wazir para tamu berdesakan agar dapat mendekati Juleidah, ingin melihatnya dan bertanya dari mana asalnya. Tapi terhadap semua pertanyaan mereka gadis itu tidak memberi jawaban, baik ya maupun tidak, meskipun dia duduk bersama mereka hingga fajar menjelang. Lalu dia menebarkan segenggam mutiara di atas lantar marmer, dan sementara para perempuan saling mendorong di antara sesama mereka untuk menangkap perhiasan tersebut, dia menyelinap pergi dengan mudah seperti mencabut selembar rambut dari adonan roti.

Nah, siapa yang berdiri di depan pintu? Pangeran, tentu saja. Dia telah menanti saat ini. Dengan menghalangi jalan, dia memegang tangan gadis itu dan bertanya siapa ayahnya dan dari negeri mana asalnya. Tapi putri harus segera kembali ke dapur atau rahasianya akan terbongkar. Maka dia berusaha melawan agar bisa pergi, dan dalam perlawanannya itu, dia menarik cincin pangeran hingga lepas dari tangannya. “Setidak-tidaknya katakan padaku dari mana asalmu!” pangeran berteriak kepadanya saat gadis itu berlari. “Demi Allah, katakan padaku di mana!”

Gadis itu menjawab, “Aku tinggal di negeri antah-berantah.” Lalu dia berlari menuju istana, dan bersembunyi di balik pakaian kulitnya.

Datanglah para perempuan yang lain, sambil berbicara dan tertawa. Pangeran menceritakan pada ibunya apa yang telah terjadi dan menyatakan bahwa dia bermaksud mengadakan perjalanan. “Aku harus pergi ke negeri antah-berantah.”

Katanya. “Sabarlah, putraku,” kata ratu. “Beri aku waktu untuk mempersiapkan bekalmu.” Meskipun semangatnya menyala-nyala, pangeran setuju untuk menunda keberangkatannya selama dua hari. “Tapi tidak boleh lebih satu jam pun!” Kini, dapur menjadi tempat yang paling sibuk di istana. Ada yang menggiling dan mengayak, membuat adonan dan memanggang, dan Juleidah hanya berdiri menonton. “Pergilah kamu,” teriak juru masak, “ini bukan tugasmu!” “Aku ingin melayani tuanku pangeran seperti yang lainnya!” kata Juleidah. Mau tak mau, juru masak membiarkannya untuk membantu dan memberinya sepotong adonan untuk dibentuk. Juleidah mulai membuat roti, dan ketika tak seorang pun melihat, dia memasukkan cincin pangeran ke dalam adonan itu. Dan ketika makanan dibungkus, Juleidah meletakkan roti kecil yang dibuatnya sendiri di bagian paling atas.

Pagi-pagi, di hari ketiga, bekal makanan telah dimasukkan ke dalam kantung-kantung pelana, dan pangeran berangkat bersama para pelayan dan orang-orangnya. Dia berkuda tanpa istirahat hingga matahari mulai menyengat. Lalu dia berkata, “Mari kita istirahatkan kuda-kuda kita sementara kita makan.”

Seorang pelayan, melihat roti Juleidah yang kecil di bagian paling atas, membuangnya. “Mengapa kamu buang roti itu?” tanya pangeran.

“Itu hasil kerja Juleidah; aku melihat dia membuatnya,” kata pelayan. “Bentuk roti ini sama anehnya dengan dia.” Pangeran merasa kasihan pada makhluk yang setengah-waras itu dan meminta pelayannya untuk mengambil kembali roti buatannya. Ketika dia menyobek roti itu, lihat, cincinnya sendiri ada di dalamnya! Cincinnya yang hilang pada malam hiburan di rumah wazir. Kini dia tahu di mana letak negeri antah-berantah itu, dan memberi perintah untuk kembali. Setelah raja dan ratu menyalaminya, pangeran berkata, “Ibu, suruh Juleidah membawakan makan malamku.”
“Dia nyaris tidak dapat melihat atau mendengar,” kata ratu. “Bagaimana mungkin dia membawakan makan malammu?”
“Aku tidak mau makan kecuali jika Juleidah yang membawakan makanan itu,” kata pangeran. Maka ketika tiba waktunya, para juru masak menata hidangan di atas baki dan membantu Juleidah mengangkatnya di atas kepala. Maka pergilah dia menaiki tangga, tapi sebelum sampai di kamar pangeran, dia menjatuhkan mangkuk dan seluruh baki berserakan di atas lantai. “Aku sudah mengatakan padamu bahwa dia tidak dapat melihat,” kata ratu kepada putranya.
“Dan aku hanya mau makan makanan yang dibawakan Juleidah,” kata pangeran.

Para juru masak menyiapkan makanan kedua, dan setelah mereka menyeimbangkan letak baki yang penuh makan itu di atas kepala Juleidah, mereka menyuruh dua orang gadis budak untuk memegangi kedua tangannya dan menuntunnya menuju kamar pangeran. “Pergilah,” kata pangeran kepada dua budak itu, “dan kamu, Juleidah, ke sinilah.” Juleidah mulai berkata,
“Namaku Juleidah karena pakaian kulitku yang melekat,
Mataku lemah, pandanganku sama-samar,
Telingaku tuli, aku tak dapat mendengar,
Aku tidak memedulikan siapa pun, jauh maupun dekat.”

Akan tetapi, pangeran berkata kepadanya, “Ke sinilah dan isi cangkirku.”
Sewaktu gadis itu mendekat, pangeran menarik belati yang tergantung di pinggangnya dan menyayat pakaian kulit itu dari atas hingga ke bawah. Pakaian itu jatuh teronggok di atas lantai—dan di situ berdirilah gadis yang digambarkan ibunya, yaitu gadis yang dapat berkata kepada bulan, “Tenggelamlah engkau sehingga aku dapat bersinar menggantikan dirimu.”

Setelah menyembunyikan Juleidah di sudut ruangan, pangeran memanggil ratu. Perempuan itu berteriak ketika dia melihat tumpukan kulit di atas lantai. “Mengapa, putraku, apakah kamu membunuhnya? Makhluk malang itu lebih pantas mendapat belas kasihan daripada hukuman darimu!”

“Masuklah, ibu” kata pangeran, “Masuk dan lihatlah Juleidah kita sebelum engkau berduka cita.” Dia menuntun sang ibu ke tempat ketika putri kita duduk tanpa selubung, kecantikannya memenuhi ruangan itu dengan kilauan cahaya. Ratu berlari memeluk gadis itu dan menciumnya di sana-sini, dan menyuruhnya duduk bersama pangeran dan makan. Lalu dia memanggil qadi untuk menuliskan perjanjian yang akan mengikat pangeran dengan putri yang jelita itu, dan setelahnya mereka hidup bersama dalam kebahagiaan yang paling manis.

Sekarang kita kembali kepada raja, ayah Juleidah. Ketika dia memasuki kamar pengantin untuk membuka cadar di wajah putrinya sendiri dan mendapati gadis itu telah pergi, dan ketika dia telah mencarinya ke seluruh pelosok kota dengan sia-sia, dia memanggil menterinya dan para pelayannya serta bersiap-siap untuk mengadakan perjalanan. Dari satu negeri ke negeri lain dan berjalan, memasuki satu kota dan meninggalkan kota berikutnya, sambil membawa perempuan tua yang pertama-tama menyarankan padanya untuk mengawini putrinya sendiri. Akhirnya, dia tiba di kota tempat tinggal Juleidah bersama suaminya, sang pangeran.

Nah, putri sedang duduk di depan jendela ketika mereka memasuki gerbang, dan dia mengenali mereka begitu dia melihatnya. Segera dia memanggil suaminya dan mendesaknya untuk mengundang orang-orang asing tersebut. pangeran pergi untuk menemui mereka dan baru berhasil menahan mereka setelah mendesak berkali-kali, sebab mereka sudah tidak sabar untuk meneruskan pencarian. Mereka makan di bangsal tamu pangeran, lalu berterima kasih kepada tuan rumah dan berpamitan dengan kata-kata berikut ini: “Pepatah mengatakan, ‘Makanlah sampai kenyang, tapi setelah itu bangkitlah, berdiri di atas kakimu!’” Sementara itu, pangeran mengulur waktu, mengucapkan pepatah, “Di mana engkau meletakkan janggutmu, di situlah engkau menggelar tempat tidurmu!”

Akhirnya, kebaikan hati pangeran berhasil memaksa orang-orang asing yang kelelahan itu untuk tidur di rumahnya sebagai tamu malam itu. “Tapi mengapa kamu mengecualikan orang-orang asing ini?” pangeran bertanya pada Juleidah. “Pinjamkan padaku jubah dan kerudung kepalamu dan biarkan aku pergi menemui mereka,” kata Juleidah. “Tidak lama lagi kamu akan tahu alasanku.”

Dengan menyamar seperti itu, Juleidah duduk bersama tamu-tamunya. Ketika cangkir-cangkir kopi telah diisi dan diminum, dia berkata, “Mari kita ceritakan kisah-kisah untuk melewatkan waktu. Maukah engkau berbicara lebih dulu, atau aku?”

“Biarkan kami tenggelam dalam kesedihan kamu, anakku,” kata raja, ayahnya. “Kami tidak punya semangat untuk mendongeng.”

“Kalau begitu aku akan menghidurmu, dan mengalihkan perhatianmu,” kata Juleidah. “Dulu pernah ada seorang raja,” dia memulai, dan selanjutnya menceritakan sejarah petualangannya sendiri dari awal hingga akhir.

Sesekali perempuan tua itu menyela dan berkata, “Tidak dapatkah engkau menemukan kisah yang lebih baik dari ini, anakku?” Namun, Juleidah terus melanjutkan ceritanya, dan setelah selesai dia berkata, “Akulah putrimu, yang tertimpa segala bencana ini akibat kata-kata pendosa tua dan penyebar aib ini!”

Keesokan harinya, mereka melemparkan perempuan tua itu dari atas bukit karang ke dalam wadi. Lalu raja menyerahkan separuh kerajaannya kepada putrinya dan pangeran, dan mereka hidup dalam kebahagiaan serta kesenangan hingga kematian, yang memisahkan orang-orang yang saling mengasihi, datang menjemput mereka.

Kisah dari Mesir

Read More - Kisah Putri dalam Pakaian Kulit

Monday, 18 July 2011

Apa yang Ditulis di Kening akan Dilihat Mata


From: Irak

Ada seorang pedagang yang mempunyai seorang istri dan seorang anak perempuan dan tidak ada lagi yang lain. Ketika kematian mengetuk pintu, anak itu tinggal sendirian bersama ibunya. Nah, perempuan ini menguasai seni ilmu gaib melalui hamparan pasir.

Dia dapat menebarkan segenggam pasir dan membaca masa depan dari ngarai dan lembah yang berbentuk darinya. Suatu hari dia mengucapkan doanya dan memohon kepada Allah agar menuntun tangannya. Tapi ketika dia menebarkan pasir, dia melihat bahwa budaknya yang berkulit hitam ditakdirkan untuk menikahi anak perempuan satu-satunya. Dia memohon pertolongan Allah agar terhindar dari gangguan setan dan mencoba lagi. yang terungkap kepadanya tidak berbeda. Tertulis di situ bahwa pelayan prianya akan menjadi suami putrinya. “Bagaimana mungkin anakku yang cantik disandingkan dengan orang seperti dia?” katanya.

Tidak lama kemudian dia menyusun suatu rencana untuk mengenyahkannya. Dia memanggil pelayan itu dan berkata, “Ada tugas yang harus kamu kerjakan. Aku ingin kamu pergi menemui Mata Matahari, Ain Asy-Syams, dan bertanya kepadanya, ‘Akan menjadi keberuntungan siapakah putri majikanku nanti?’”

“Aku akan pergi dengan senang hati,” kata si pelayan. Maka perempuan itu mempersiapkan apa yang dibutuhkan untuk perjalanannya dan melepasnya pergi.

Pelayan itu tidak punya pengalaman. Dia tidak bisa membedakan antara kota dan desa dan tidak punya gambaran sama sekali ke mana atau dengan cara apa dia harus pergi. Untunglah di perjalanan dia bertemu seorang pria bertangan bengkok sedang menggembalakan kambing putih hitam dan kambing hitam.

“Damai!” kata si budak.
Pria itu menjawab, “Salaam!
Si budak bertanya, “Katakan padaku, jalan apakah ini dan ke mana arahnya?”
Pria itu berkata, “Jalan mana yang ingin kamu masuki? Tempat apa yang kamu cari?”
Si budak menjawab, “Aku mencari Ain Asy-Syams untuk bertanya, ‘Akan menjadi keberuntungan siapakah putri majikanku nanti?’”
“Ho ho!” kata pria itu. “Jika kamu bertemu Ain Asy-Syams maukah kamu membatuku untuk bertanya padanya, ‘Berapa lama lagi gembala itu harus mengawasi ternaknya?’”

Si budak setuju. Lalu dia meneruskan perjalanannya. Dia bertemu seorang pria yang sedang memetik panen, memotong tanam-tanaman yang hijau, dan juga yang telah kering serta melemparkan semuanya ke sungai.

"Salaam!” kata si budak.
Pria itu menyahut, “Semoga damai menyertaimu! Kemana kamu akan pergi, Saudara?”
“Aku akan pergi ke tempat Ain Asy-Syams untuk bertanya kepadanya, ‘Akan menjadi keberuntungan siapakah putri majikanku nanti?’”
Pria itu berkata, “Jika kamu sampai di sana maukah kamu mengajukan pertanyaan ini kepada Ain Asy-Syams: ‘Berapa lama lagi orang itu harus melemparkan seluruh hasil panennya ke dalam air, tanpa membedakan antara yang mendah dan yang matang?’”

Si budak setuju dan meneruskan langkahnya, berjalan dan berjalan dan berjalan, hingga dia tiba di lautan yang tidak punya sumber maupun dasar.

Di atasnya seekor ikan mengapung. “Ke mana kamu akan pergi?” ikan bertanya.
“Menemui Ain Asy-Syams untuk menanyakan, ‘Akan menjadi keberuntungan siapakah putri majikanku nanti?’”
“Bagaimana caramu menemuinya?” tanya ikan. Ketika pria itu menjawab bahwa dia tidak tahu, ikan berkata, “Aku akan mengantarmu. Aku akan membawamu menyeberangi lautan di atas punggungku, tapi setelah tiba di sana kamu harus bertanya kepada Ain Asy-syams, ‘Mengapa ikan mengapung di atas air?’” Si budak setuju, dan ikan membawanya ke pantai seberang serta berjanji akan menanti sampai dia kembali.

Pria itu berjalan dan berjalan dan berjalan hingga dia bertemu dengan Ain Asy-Syams. Yang pertama-tama ditanyakannya adalah, “Ya Ain Asy-Syams, akan menjadi keberuntungan siapakah putri majikanku nanti?”

Dia berkata, “Keberuntunganmu. Milikmu. Milikmu.”

Lalu si budak berkata, “Gembala itu ingin aku menanyakan padamu berapa lama lagi dia harus mengembalakan ternaknya”.

Dia menjawab, “Dialah orang yang harus menggembala siang dan malam. Ini akan tetap menjadi pekerjaannya hingga akhir zaman.”

Si budak berkata, “Bagus. Tapi bagaimana dengan pemetik panen yang memotong buah yang hijau dan yang masak dan melemparkannya ke dalam air, tanpa membeda-bedakannya? Berapa lama lagi dia harus bekerja?”

Dia menjawab, “Dialah orang yang mendatangkan kematian kepada kaum tua dan kaum muda, dan pekerjaannya tidak akan berakhir. Panen buah yang masih hijau itu adalah orang-orang yang masih muda dan bodoh, sedangkan buah yang sudah matang adalah orang-orang yang sudah beruban.”

“Aku masih punya satu pertanyaan lagi,” kata si budak.
“Katakanlah,” undang Ain Asy-Syams.
“Ikan ini, mengapa ia mengapung di atas air, tidak dapat menyelam atau tenggelam?”
“Biar ikan itu membawamu lebih dulu menyeberangi lautan,” sahut Ain Asy-Syams. “Setelah kamu mendarat dengan aman, tepuklah punggungnya. Ia akan meludahkan sebuah mutiara sebesar buah kemiri dan selanjutnya dia akan dapat bergabung dengan kawan-kawannya di bawah laut. Mutiara itu hadiah untukmu. Pada sisi lain jalan yang akan membawamu pulang, kamu akan menemukan sebuah kolam batu. Pada salah satunya terdapat harta melimpah, sedangkan pada yang satu lagi air. Mandilah pada satu kolam dan kamu akan berubah menjadi putih bagai perak. Harta yang melimpah itu untukmu, ambillah.”

Apa yang dikatakannya dilaksanakan budak berkulit hitam itu. Dia berubah menjadi putih bagai perak dan pulang dengan membawa seluruh harta yang diikatkannya pada punggung sebarisan bagal.


Dengan cara yang megah itulah dia sampai di depan pintu majikannya, sementara seluruh masyarakat di kota itu mengikutinya terheran-heran. Dia masuk, dan majikannya tidak mengenalinya. Takjub, perempuan itu berkata pada dirinya sendiri, “Ini pastilah putra saudara lelaki suamiku yang tinggal di kota lain. Dia pasti telah mendengar kabar tentang kematian pamannya dan datang untuk meminang saudara sepupunya. Siapa yang lebih berhak atas putriku selain saudara sepupu pertamanya?”

Maka budak itu tinggal di dalam rumah sebagai tamu kehormatan. Selama itu dia tidak mengajukan pertanyaan dan majikannya tidak menanyakan apa-apa kepadanya. Lalu perempuan itu berkata, “Apakah kamu ingin gadis ini menjadi istrimu?”
“Jika engkau menginginkannya,” katanya.

Maka mereka mengadakan persiapan. Mereka menetapkan sejumlah uang mahar. Apa yang harus dijahit, dijahit, dan yang harus disulam, disulam. Gadis itu dibawa ke tempat mandi umum dan tamu-tamu diundang.

Nah, malam pengantin telah tiba. Gadis itu duduk di kamar pengantin. Mempelai pria mengenakan pakaian yang indah, dan janggutnya berbau wangi kemenyan. Dia berdiri setinggi para pahlawan dalam dongeng, kedua lengannya terlipat di dada dan ketampanannya bersinar layaknya cahaya bulan. Wajah gadis itu memerah saat memandangnya. Meskipun dia menanti suaminya untuk berbicara, pria itu tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu berharap suaminya untuk duduk di sampingnya, tapi dia tetap berdiri.

Akhirnya si gadis berkata, “Mengapa kamu tidak beristirahat?”
Pria itu menyahut, “Wahai putri majikanku, bagaimana mungkin aku datang atau pergi tanpa perintahmu?”
“Betapa anehnya perkataanmu! Mengapa kamu berkata begitu?” tanya si gadis.
“Sebab aku adalah pelayanmu,” katanya. “Ibumu menyuruhku pergi untuk menemui Ain Asy-Syams, dan beginilah aku jadinya!”
“Apa yang kamu sampaikan padaku tidak boleh disampaikan pada siapa pun!” katanya. Seraya tertawa di depan wajah pria tampan itu, si gadis berkata pada dirinya sendiri, “Terpujilah Allah atas takdirku ini! Terpujilah Allah atas keberuntunganku ini!”

Read More - Apa yang Ditulis di Kening akan Dilihat Mata

Abu Nawas Tetap Bisa Cari Solusi


Mimpi buruk yang dialami Baginda Raja Harun Al Rasyid tadi malam menyebabkan Abu Nawas diusir dari negeri Baghdad. Abu Nawas tidak berdaya. Bagaimana pun ia harus segera menyingkir meninggalkan negeri Baghdad hanya karena mimpi. Masih jelas terngiang-ngiang kata-kata Baginda Raja di telinga Abu Nawas. "Tadi malam aku bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua. La mengenakan jubah putih. la berkata bahwa negerinya akan ditimpa bencana bila orang yang bernama Abu Nawas masih tetap tinggal di negeri ini. la harus diusir dari negeri ini sebab orang itu membawa kesialan. ia boleh kembali ke negerinya dengan sarat tidak boleh dengan berjalan kaki, berlari, merangkak, melompat-lompat dan menunggang keledai atau binatang tunggangan yang lain." Dengan bekal yang diperkirakan cukup Abu Nawas mulai meninggalkan rumah dan istrinya. Istri Abu Nawas hanya bisa mengiringi kepergian suaminya dengan deraian air mata.

Sudah dua hari penuh Abu Nawas mengendarai keledainya. Bekal yang dibawanya mulai menipis. Abu Nawas tidak terlalu meresapi pengusiran dirinya dengan kesedihan yang terlalu mendalam. Sebaliknya Abu Nawas merasa bertambah yakin bahwa Tuhan Yang Maha Perkasa akan segera menolong keluar dari kesulitan yang sedang melilit pikirannya. Bukankah tiada seorang teman pun yang lebih baik daripada Allah SWT dalam saat-saat seperti itu?


Setelah beberapa hari Abu Nawas berada di negeri orang, ia mulai diserang rasa rindu yang menyayat-nyayat hatinya yang paling dalam. Rasa rindu itu makin lama makin menderu-deru seperti dinginnya jamharir. Sulit untuk dibendung. Memang, tak ada jalan keluar yang lebih baik daripada berpikir. Tetapi dengan akal apakah ia harus melepaskan diri? Begitu tanya Abu Nawas dalam hati. Apakah aku akan meminta bantuan orang lain dengan cara menggendongku dari negeri ini sampai ke istana Baginda? Tidak! Tidak akan ada seorang pun yang sanggup melakukannya. Aku harus bisa menolong diriku sendiri tanpa melibatkan orang lain.

Pada hari kesembilanbelas Abu Nawas menemukan cara lain yang tidak termasuk larangan Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setelah segala sesuatunya dipersiapkan, Abu Nawas berangkat menuju ke negerinya sendiri. Perasaan rindu dan senang menggumpal menjadi satu. Kerinduan yang selama ini melecut-lecut semakin menggila karena Abu Nawas tahu sudah semakin dekat dengan kampung halaman.
Mengetahui Abu Nawas bisa pulang kembali, penduduk negeri gembira. Desasdesus tentang kembalinya Abu Nawas segara menyebar secepat bau semerbak bunga yang menyerbu hidung. Kabar kepulangan Abu Nawas juga sampai ke telinga Baginda Harun Al Rasyid. Baginda juga merasa gembira mendengar berita itu tetapi dengan alasan yang sama sekali berbeda. Rakyat gembira melihat Abu Nawas pulang kembali, karena mereka mencintainya. Sedangkan Baginda Raja gembira mendengar Abu Nawas pulang kembali karena beliau merasa yakin kali ini pasti Abu Nawas tidak akan bisa mengelak dari hukuman.

Namun Baginda amat kecewa dan merasa terpukul melihat cara Abu Nawas pulang ke negerinya. Baginda sama sekali tidak pernah membayangkan kalau Abu Nawas ternyata bergelayut di bawah perut keledai. Sehingga Abu Nawas terlepas dari sangsi hukuman yang akan dijatuhkan karena memang tidak bias dikatakan telah melanggar larangan Baginda Raja. Karena Abu Nawas tidak mengendarai keledai.

Read More - Abu Nawas Tetap Bisa Cari Solusi

Saturday, 16 July 2011

Ikan Merah Kecil dan Kasut Emas


From: Irak

Di negeri antah-berantah hiduplah seorang nelayan. Istrinya mati tenggelam di sungai besar dan meninggalkan seorang gadis kecil yang cantik berumur kurang dari dua tahun. Di sebuah rumah di dekat situ tinggallah seorang janda bersama putrinya. Kedua perempuan itu mulai sering datang ke rumah nelayan untuk merawat si gadis kecil dan menyisir rambutnya, dan setiap kali sang janda berkata kepada gadis kecil itu, “Tidakkah aku bersikap layaknya seorang ibu kepadamu?” Dia berusaha menyenangkan hati nelayan, tapi nelayan selalu berkata, “Aku tidak akan menikah lagi. ibu tiri biasanya membenci anak-anak suami mereka meskipun ibu anak-anak itu telah meninggal dan dikubur.

Ketika putrinya sudah cukup besar dan jatuh kasihan kepada ayahnya setiap kali dia melihat sang ayah mencuci pakaiannya sendiri, dan berkata, “Mengapa engkau tidak menihaki tetangga kita, Ayah? Dia tidak jahat, dan dia menyayangiku seperti menyayangi putrinya sendiri.

Pepatah mengatakan, tetesan air akan melubangi sebuah batu. Akhirnya nelayan menikahi janda itu, dan dia pindah ke rumahnya. Perkawinan belum lewat seminggu ketika jelas sudah bahwa janda itu merasa cemburu pada putri suaminya. Dia menyadari betapa sang ayah sangat menyayangi putrinya dan memanjakannya. Dan dia pun menyadari bahwa anak itu cantik, dan cerdas, sementara anaknya sendiri kurus dan bodoh, dan begitu canggung sehingga dia tidak tahu bagaimana caranya menjahit keliman bajunya sendiri.


Tidak lama setelah perempuan itu merasa yakin dirinya menjadi nyonya rumah, dia mulai menyerahkan seluruh tugas rumah tangga untuk dikerjakan putri tirinya. Dan tidak mau memberikan sabun kepada gadis itu untuk mencuci rambut dan kakinya, dan dia tidak menyediakan makanan untuknya kecuali makanan sisa dan remah-remah. Semua ini dijalani si gadis dengan penuh kesabaran, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sebab dia tidak ingin membuat ayahnya sedih, dan dia berpikir, “Aku mengambil kalajengking itu dengan tanganku sendiri; aku akan menyelamatkan diriku dengan usahaku sendiri.

Di samping tugas-tugas lainnya, putri nelayan harus pergi ke sungai setiap hari untuk membawa pulang hasil tangkapan ayahnya, ikan yang mereka makan dan yang mereka jual. Suatu hari dari bawah sebuah keranjang yang berisi tiga ekor ikan lele, tiba-tiba seekor ikan merah kecil berbicara kepadanya:

Anak dengan kesabaran begitu besar,
Aku mohon padamu, selamatkan nyawaku.
Ke dalam air tolong aku engkau lempar,
Dan kini dan selanjutnya jadilah anakku.

Gadis itu berhenti untuk mendengarkan, setengah heran setengah takut. Lalu sambil mundur dia melemparkan ikan tersebut ke dalam air sungai dan berkata, “Pergilah! Pepatah mengatakan, ‘Berbuat baiklah, bahkan jika itu seperti membuang emas ke laut, di mata Allah tidak diabaikan.’” Mengangkat mukanya ke atas air, ikan kecil berkata:

Kebaikanmu tidaklah sia-sia
Seorang ibu baru engkau temukan.
Datanglah padaku jika engkau berduka,
Dan aku akan membantumu meraih kegembiraan.

Gadis itu melangkah kembali ke rumah dan menyerahkan tidak ekor ikan lele kepada ibu tirinya. Ketika nelayan menanyakan ikan keempat, si gadis berkata, “Ayah, ikan merah itu jatuh dari keranjangku. Ia mungkin masuk ke sungai, sebab aku tidak bisa menemukannya lagi.
Tidak apa-apa,” kata nelayan, “itu Cuma ikan kecil.” Tapi ibu tirinya mulai mencela. “Kamu tidak pernah memberi tahu aku ada empat ekor ikan. Kamu tidak mengatakan yang satu hilang. Pergi sekarang dan carilah, sebelum aku mengutukimu.

Saat itu sudah lewat petang hari dan si gadis harus berjalan kembali ke sungai dalam kegelapan. Dengan mata bengkak karena penuh air mata, dia berdiri di tepi sungai dan berseru,

Ikan merah, ibu dan pengasuhku,
Datanglah cepat, lepaskan kutukanku.

Dan muncullah di dekat kakinya ikan merah kecil itu, menenangkan hatinya dan berkata, “Meski kesabaran itu pahit, buahnya sangat manis. Kini membungkuklah dan ambil kepingan emas dari mulutku. Berikan pada ibu tirimu, dan dia tidak akan mengata-ngataimu lagi.” Tepat seperti itulah yang terjadi.

Tahun berganti tahun, dan di rumah nelayan kehidupan berlangsung seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah kecuali bahwa kedua gadis kecil itu kini menjadi gadis remaja.

Suatu hari, seorang tokoh terkenal, pedagang paling terkemuka, mengumumkan bahwa putrinya akan menikah. Sudah menjadi adat bahwa para perempuan berkumpul di rumah mempelai perempuan pada “hari inai mempelai” untuk membuat perayaan dan bernyanyi saat mereka menyaksikan kaki, telapak tangan, dan lengan gadis itu dihiasi dengan inai merah untuk menyambut saat pernikahan. Lalu setiap ibu membawa putri-putri mereka yang belum menikah agar dilihat calon-calon ibu mertua. Nasib kebanyakan gadis ditentukan pada hari seperti itu.

Istri nelayan menggosok dan membersihkan tubuh putrinya dan memberinya gaun paling indah yang dimilikinya dan bergegas membawanya ke rumah pemimpin para pedagang bersama yang lain. Putri nelayan ditinggalkan di rumah dengan tugas mengisi kendi air dan menyapu lantai sementara mereka pergi.

Begitu kedua perempuan itu hilang dari pandangan, putri nelayan mengangkat roknya dan lari menuju sungai untuk memberitahukan kesedihannya pada ikan merah kecil. “Kamu akan pergi ke pesta inai mempelai itu dan duduk di atas bantal di tengah bangsal,” kata ikan merah kecil. Dia memberi gadis itu sebuah bungkusan kecil dan berkata, “Inilah segala sesuatu yang perlu kamu kenakan, dengan sisir mutiara untuk rambutmu dan kasut emas untuk kakimu. Tapi satu hal harus kamu ingat: pastikan kamu sudah pergi sebelum ibu tirimu berpamitan.

Ketika gadis itu melepaskan kain yang diikatkan pada pakaian itu, jatuhlah selembar gaun sutra berwarna hijau bagai daun semanggi. Gaun itu disulam dengan benang dan perhiasan dari emas, dan dari lipatannya tercium bau harum seperti bunga mawar. Dengan cepat gadis itu mandi dan berdandan dan memasang sisir mutiara itu pada rambutnya dan menyusupkan kakinya pada kasut emas dan pergi bergegas ke tempat pesta.

Para perempuan dari setiap rumah di kota itu berada di sana. Mereka berhenti berbicara untuk mengagumi kecantikan dan keanggunannya, dan mereka berpikir, “Ini pastilah putri gubernur!” Mereka membawakan untuknya sari buah dan kue yang terbuat dari buah badam dan madu serta mereka mendudukkannya di tempat kehormatan di tengah-tengah mereka semua. Dia mencari ibu tiri dan anaknya dan melihat mereka jauh di sana, di dekat pintu bersama para petani dan istri-istri para pemintal dan pedagang keliling.

Ibu tirinya menatapnya dan berkata pada dirinya sendiri, “Ya Allah, tumpuan puja-puji kami, betapa miripnya perempuan ini dengan putri suamiku! Tapi bukankah pepatah mengatakan, ‘Setiap tujuh orang dibuat dari satu gumpalan tanah?’” Dan sang ibu tiri tidak tahu bahwa gadis itu tidak lain putri suaminya sendiri!

Untuk tidak memperpanjang cerita, sebelum semua perempuan itu berdiri, putri nelayan pergi menemui ibu mempelai dan berkata, “Semoga rahmat dan karunia Allah menyertaimu, ya bibiku!” lalu bergegas keluar. Matahari telah tenggelam dan kegelapan datang. Dalam perjalanannya, gadis itu harus melewati sebuah jembatan di atas sungai yang mengalir menuju taman raja. Dan karenatakdir dan ketentuan Ilahi, kebetulan ketika dia berlari melewati jembatan itu, kasut emasnya lepas dari kakinya dan jatuh ke dalam sungai di bawahnya. Terlalu jauh untuk turun ke sungai dan mencari di dalam gelap; bagaimana jika ibu tirinya sudah tiba di rumah sebelum dia pulang? Maka gadis itu melepas kasutnya yang satu lagi, dan sambil mengangkat gaunnya tinggi-tinggi, dia melesat pulang ke rumahnya.

Ketika tiba di rumah dia melipat pakaiannya yang indah dan menggulung sisir mutiara serta kasut emasnya di dalamnya, dan menyembunyikannya di bawah tumpukan kayu. Dia melumuri kepala dan tangan serta kakinya dengan tanah untuk membuatnya tampak kotor, dan dia tengah berdiri menyapi ketika ibu tirinya menemuinya. Istri nelayan itu memandang wajahnya dan memperhatikan tangan serta kakinya dan berkata, “Masih menyapu setelah matahari tenggelam? Atau apakah kamu ingin menyapu nyawa kami semua?

Bagaimana dengan kasut emas itu? Nah, arus sungai membawanya ke dalam taman raja dan mendorongnya serta mendorongnya terus hingga masuk ke dalam kolam tempat putra raja menuntun kudanya minum. Keesokan harinya, pangeran memberi air pada kudanya. Dia memperhatikan bahwa setiap kali kuda itu menurunkan kepalanya untuk minum, sesuatu membuatnya malu dan melangkah mundur. Ada apa di bawah kolam itu yang telah membuat takut kudanya? Dia memanggil pengurus kandang, dan dari balik lumpur, orang itu mengambil kasut emas yang bercahaya dan menunjukkannya kepada pangeran.

Ketika pangeran memegang benda kecil yang itu itu, dia mulai membayangkan kaki kecil yang indah yang memakainya. Dia berjalan kembali ke dalam istana dengan jantung berdebar dan pikiran penuh khayalan tentang gadis yang memiliki alas kaki yang begini berharga. Ratu melihatnya tenggelam dalam angan-angan dan berkata, “Semoga Allah menurunkan kabar baik pada kital mengapa melamun begitu asyik, putraku?
Yammah, wahai Ibu, aku ingin engkau mencarikan seorang istri untukku!” Kata pangeran.
Memikirkan satu istri saja sampai jadi begini?” kata ratu. “Aku akan mencarikanmu seribu orang jika kamu ingin! Aku akan mendatangkan setiap gadis di kerajaan ini untuk menjadi istrimu jika kamu mau! Tapi katakan padaku, putraku, siapakah gadis yang telah membuatmu kehilangan akal?
Aku ingin mengawini gadis yang memiliki kasut ini,” sahut pangeran, dan dia menceritakan kepada ibunya bagaimana dia menemukan benda itu.
Kamu akan mendapatkannya, putraku,” kata ratu. “Aku akan memulai pencarianku besok begitu matahari terbit, dan aku tidak akan berhenti sampai aku menemukannya.

Keesokan harinya, ibu pangeran mulai bekerja, masuk ke satu rumah dan keluar dari rumah lainnya dengan kasut emas terkepit di lengannya. Setiap kali melihat seorang gadis remaja, dia mencobakan kasut itu pada telapak kakinya. Sementara itu, pangeran duduk di gerbang istana, menantinya kembali. “Bagaimana kabarnya, Ibu?” tanyanya. Dan sang ibu menjawab, “Belum ketemu, putraku. Sabarlah, nak, tempelkan salju ke dadamu dan kendalikan hasratmu. Aku akan terus mencarinya.

Pencarian itu pun terus berlanjut. Memasuki satu gerbang dan meninggalkan gerbang lainnya, ratu mengunjungi rumah-rumah para bangsawan dan para saudagar serta para pandai emas. Dia menemui putri-putri para pengrajin dan para pedagang. Dia memasuki gubuk para pengangkut air dan tukang pintal, dan berhenti pada setiap rumah hingga tinggal pondok nelayan di tepai sungai itu yang belum didatangi. Setiap malam ketika pangeran menanyakan kabar, dia berkata, “Aku akan menemukannya, aku akan menemukannya.

Ketika keluarga nelayan itu diberi tahu bahwa ratu akan datang untuk mengunjungi rumah mereka, istri nelayan yang penuh muslihat itu jadi sibuk, dia memandikan putrinya dan memakaikan gaunnya yang paling baik, dia mencuci rambutnya dengan inai dan menghiasi matanya dengan kohl dan menggosok-gosok pipinya sampai berkilau merah. Tapi tetap saja ketika gadis itu berdiri di samping putri nelayan, dia tampak seperti lilin di samping matahari. Meskipun anak tiri itu diperlakukan dengan demikian buruk dan sering kelaparan, dengan kehendak Allah dan dengan bantuan ikan merah kecil, kecantikannya semakin bertambah dari hari ke hari.

Kini ibu tirinya menyeretnya keluar rumah dan ke halaman. Dia mendorongnya ke dalam pemanggang dan menutup pintunya dengan kaki lempung bulat yang biasa digunakan untuk meratakan adonan. Ini diberinya pemberat dengan batu gerinda. “Jangan berani-berani bergerak sampai aku mendatangimu!” kata ibu tiri. Apa yang dapat dilakukan gadis malang itu kecuali meringkuk di atas abu dan memercayakan nasibnya kepada Allah?

Ketika ratu tiba, ibu tiri mendorong putrinya ke depan, sambil berkata, “Ciumlah tangan ibu pangeran, anak bodoh!” Seperti yang telah dilakukannya di rumah-rumah lain, ratu menyuruh gadis itu duduk di sampingnya dan memegang kakinya dan menyusupkannya ke dalam kasut emas. Tepat pada saat itu ayam jantan tetangga terbang ke halaman dan mulai berkokok,

Ki-ki-ki-kow!
Ketahuilah istri raja,
Mereka memamerkan gadis buruk rupa,
Dan menyembunyikan si jelita.
Ki-ki-ki-kow!

Dia mulai lagi dengan jeritannya yang memekakkan telinga, dan ibu tiri berlari keluar dan mengayunkan tangannya untuk mengejarnya. Tapi ratu telah mendengar kata-katanya, dan dia menyuruh pelayan-pelayannya untuk mencari ke sana-kemari. Ketika mereka mendorong ke samping penutup pemanggang, mereka menemukan gadis itu—cantik bagaikan bulan di tengah kepulan abu. Mereka membawanya menghadap ratu, dan kasut emas itu pas di kakinya seakan-akan ia dibuat menurut ukuran kakinya.

Ratu merasa puas. Dia berkata, “Sejak saat ini putrimu kujodohkan dengan putraku. Bersiap-siaplah untuk menyambut perkawinannya. Insya Allah, iring-iringan akan datang pada hari Jumat.” Dan dia memberikan kepada ibu tiri itu sekantung penuh uang emas.

Ketika perempuan itu sadar bahwa rencananya gagal, bahwa putri suaminya akan menikah dengan pangeran sementara anknya sendiri tetap tinggal di rumah, hatinya dipenuhi kemarahan dan dendam. “Aku akan berusaha agar dia dikembalikan ke rumah ini sebelum malam berlalu.

Dia mengambil kantung berisi emas itu, lari ke pasar wewangian, dan minta obat pencahar yang begitu kuat hingga dapat membuat isi perut hancur-lebur. Melihat emas, penjual mulai mencapur bubuk obat itu di atas bakinya. Lalu dia minta arsenik dan kapur, yang dapat melemahkan rambut dan membuatnya rontok, serta balsem yang baunya seperti daging bangkai.

Nah, ibu tiri mempersiapkan mempelai menyambut hari perkawinannya. Dia mencuci rambutnya dengan inai dicampur arsenik dan kapur, serta menggosokkan balsem bau itu pada rambutnya. Lalu dia memegang telinga gadis itu dan mengucurkan obat pencahar ke dalam kerongkongannya. Tidak lama kemudian iring-iringan pengantin tiba, dengan kuda-kuda dan genderang, pakaian-pakaian indah berwarna cerah, dan suara-suara riang. Mereka menaikkan mempelai perempuan ke atas tandu dan membawanya pergi.

Dia memasuki istana didahului suara musik dan diikuti nyanyian serta puja-puji dan tepukan tangan. Dia memasuki kamar pengantin, pangeran membuka kerudung wajahnya, dan dia bersinar bagaikan bulan tanggal empat belas. Wangi amber dan bunga mawar membuat pangeran menekankan wajahnya ke rambut istrinya. Dia menyisir rambut itu dengan jari-jarinya, dan rasanya seperti bermain dengan kain emas. Kini gadis itu mulai merasa perutnya berat, tapi dari bawah gaunnya jatuhlah kepingan-kepingan emas dalam jumlah ribuan hingga permadani dan bantal-bantal tertutup emas.

Sementara itu, ibu tiri menanti di depan pintu, sambil berkata, “Kini mereka akan mengembalikan gadis itu dengan membawa aib, dia akan tiba di rumah dalam keadaan kotor dan botak,” Tapi meskipun dia berdiri di depan pintu sampai pagi, tak seorang pun datang dari istana raja.

Berita mengenai istri cantik sang pangeran mulai tersebar di kota, dan putra pedagang berkata kepada ibunya. “Mereka berkata bahwa istri pangeran punya saudara perempuan. Aku ingin dia menjadi istriku.” Ketika pergi ke gubuk nelayan, ibu pemuda itu memberikan sekantung penuh uang emas kepada istri nelayan dan berakat, “Persiapkan putrimu, sebab kami akan datang untuk menjemputnya pada hari Jumat, insya Allah.

Istri nelayan berkata pada dirinya sendiri, “Jika apa yang kulakukan pada putri suamiku dapat mengubah rambutnya menjadi benang emas dan perutnya menjadi penuh uang, tidakkah akan kulakukan hal yang sama pada anakku sendiri?” Dia bergegas mendatangi penjual wewangian dan minta bubuk dan obat-obatan yang sama, tapi lebih keras dari yang sebelumnya. Lalu dia mempersiapkan anaknya, dan iring-iringan pengantin tiba. Ketika putra pedagang membuka kerudung wajah mempelainya, rasanya seperti mengangkat penutup peti jenazah. Bau busuk mengengat begitu kuat sehingga pemuda itu tercekik, dan rambut gadis itu rontok di tangannya. Maka mereka membungkus mempelai yang malang itu dengan kotorannya snediri dan membawanya kembali ke rumah ibunya.

Sedangkan sang pangeran hidup bersama putri nelayan dalam kebahagiaan dan kegembiraan, dan Allah menganugerahkan tujuh anak laksana tujuh burung emas.

Mulberry, mulberry,
Maka berakhirlah kisahku ini.
Jika rumahku tidak begitu jauh jaraknya,
Aku akan membawakanmu kismis dan buah ara.

Read More - Ikan Merah Kecil dan Kasut Emas

Thursday, 14 July 2011

Lengan Baju Djuha


From: Suriah

Suatu hari Djuha datang ke sebuah jamuan dengan pakaian rombengnya yang biasa, dan dia pun diusir di depan pintu. Kemudian dia berdandan dengan setelannya yang paling mahal, memasangi bagalnya pelana, dan kembali ke rumah tersebut dengan penampilan layaknya seorang tokoh penting. Kali ini si pelayan menyambutnya penuh takzim dan mendudukkannya di samping para tamu kehormatan. Ketika Djuha hendak mengambil sepotong daging panggang, kebetulan lengan bajunya jatuh menimpa makanan itu.


Tarik kembali lengan bajumu,” bisik pria di sampingnya.
Tidak,” sahut Djuha. “Aku tidak mau melakukannya!

Kemudian, kepada lengan bajunya, dia berkata, “Makanlah, lengan bajuku, makanlah sampai kamu kenyang! Kamu lebih berhak atas makanan ini daripada aku. Di rumah ini mereka lebih menghormati kamu daripada aku.

Read More - Lengan Baju Djuha

Wednesday, 13 July 2011

Bahlul dan Burung Hantu


From: Maroko

Di masa mudanya, Bahlul hidup bersama ibunya. Ibunya adalah seorang perempuan miskin yang hampir tidak punya apa-apa kecuali seekor kambing dan anak lelakinya sendiri. Tibalah suatu hari ketika dia tidak punya uang lagi dan tidak ada apa pun di rumah yang dapat dimakan.
Ke sinilah, anakku, semoga Allah melindungimu dan memberimu rezeki,” katanya. “Bawalah kambing ini ke pasar di kota dan juallah agar kita dapat membeli sepotong roti untuk makan kita.

Bahlul membawa kambing itu keluar dari desa. Tidak lama kemudian dia tiba di sebuah tempat yang sunyi. Dia melihat seekor burung hantu hinggap di atas sebuah batu.
Uh-huh!” seru si burung hantu.
Apakah kamu ingin membeli kambingku?” tanya Bahlul.
Uh-huh!
Apakah kamu punya uang sepuluh dinar untuk membayarnya?” tanya Bahlul.
Uh-huh!
Kalau begitu dia jadi milikmu; semoga dia bisa mendatangkan keberuntungan kepadamu!” kata Bahlul. Dia menunggu dibayar dan akhirnya meminta uang pada burung hantu, tapi burung hantu hanya mengulang seruannya, “Uh-huh!
Jika kamu ingin aku datang untuk mengambil uangnya besok, maka aku akan kembali!” kata Bahlul, dan berlari pulang.
Berapa uang yang kamu peroleh darinya?” tanya ibu Bahlul ketika dia melihatnya pulang tanpa kambingnya.
Aku setuju untuk menunggu bayaran sepuluh dinar sampai besok,” kata Bahlul.
Mengapa, kepada siapa kamu menjualnya?” tanya sang ibu.
Kepada seekor burung yang berkata ‘Uh-huh!’ Dia berjanji uangnya akan siap besok.
Kamu tidak akan mendapatkan uang atau buah melon dari seekor burung hantu, anakku,” kata ibu Bahlul. “Kita tidak akan melihat uang sepuluh dinar besok atau pada saat panen aprikot, semoga Allah mengampuni kebodohanmu!

Keesokan harinya, Bahlul kembali ke tempat sunyi itu, dan menemukan si burung hantu hinggap di atas batu yang sama.
Aku datang untuk mengambil uang pembayar kambingku,” seru Bahlul, tapi yang dikatakan burung hantu hanya “Uh-huh!” Akhirnya, Bahlul memungut sebutir batu dan melempar burung itu, yang terbang menuju sebuah lubang sempit di antara dua batu besar. bahlul mengejarnya dan menemukan dirinya telah berada di sebuah goa. Di atas tanah, di depannya berdiri sebuah kendi tanah liat yang penuh berisi kepingan emas. “Akan kuambil apa yang kamu pinjam dariku,” kata Bahlul pada burung hantu, dan menghitung sepuluh kepingan emas.

Dari mana kamu menemukan semua ini, putraku?” tanya ibunya.
Aku mengikuti burung itu ke goanya dan mengambil apa yang dia pinjam dariku dari persediaan emas miliknya.
Dapatkah kamu menemukan tempat itu lagi?
Ya,” kata Bahlul.
Maukah kamu membawaku ke sana besok?
Dengan senang hati,” kata Bahlul.



Sebelum pergi tidur malam itu, ibu Bahlul memasak sepanci penuh buncis dan sejenis kacang lainnnya serta mengikatnya pada sebuah kantung. Begitu hari terang, dia membangunkan putranya, dan mereka berdua berangkat menuju goa si burung hantu. Setinya di sana, ibu Bahlul meniti bebatuan, memanjat ke dalam goa, dan mengumpulkan seluruh emas di situ untuk dimasukkan ke rok bajunya. Tidak lama kemudian, dia dan anaknya sudah dalam perjalanan pulang kembali. Dalam perjalanan pulang ke desa, ibu Bahlul terus melemparkan segenggam buncis dan kacang masak ke udara. Bahlul sigap menangkapnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Sementara ibunya dengan hati-hati menggali sebuah lubang di lantai rumah mereka untuk mengubur panci berisi emas itu, Bahlul menyebarkan kabar baik itu kepada semua orang yang ditemuinya. “Ibuku telah menemukan harta karun!” katanya gembira kepada orang-orang desa.
Di mana dia menemukannya?” tanya mereka.
Di antara bebatuan di jalan sana.
Kapan dia menemukannya?
Tepat sebelum turun hujan buncis dan kacang.

Mendengar jawabannya, orang-orang desa tersenyum maklum dan menggeleng-gelengkan kepala mereka.

Read More - Bahlul dan Burung Hantu

Abu Nawas dan Ratu


From: Suriah

Suatu kali Abu Nawas meminta izin Harun Al-Rasyid untuk meminta seekor keledai dari setiap suami di kerajaan itu yang terbukti takut pada istrinya. Beberapa saat kemudian, ketika Khalifah sedang duduk di jendela istana, dia melihat kepulan debuh di cakrawala. Segera saja dia tahu Abu Nawas sedang menggiring kawanan keledai ke pasar ternak. “Apa artinya ini, Abu Nawas?” tanyanya.



Inilah keadaan kerajaan paduka yang menyedihkan, Tuanku,” kata Abu Nawas. “Bukankah paduka memberi izin pada hamba meminta seekor keledai dari setiap pria yang takut pada istrinya? Omong-omong, di perjalanan hamba melihat seorang gadis dengan pipi bagaikan buah delima. Hamba segera ingat paduka ...

Shh!” bisik Khalifah. “Ratu Zubeida sedang duduk di balik tirai itu. Dia akan mendengarmu!

Tuanku,” kata Abu Nawas, “dari rakyat di negeri paduka hamba telah meminta seekor keledai; untuk raja dendanya dua ekor keledai. Mohon keledainya yang berbulu putih.

Read More - Abu Nawas dan Ratu